MAIN MENU

Newsletter



Join our newsletter and received an uptodate information about event and course on Hadiprana Artclass

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday4
mod_vvisit_counterYesterday98
mod_vvisit_counterThis week331
mod_vvisit_counterThis month1843
mod_vvisit_counterAll82205
Art Inspirations
April_2013

  

 

“ OUT of THE BOX “ (OTB ) dalam Melukis

 

 

      Kata OTB tidak bisa dipisahkan dengan kata kreatif. Karena untuk berfikir Out of The Box kita harus meningkatkan kreatifitas. Demikian pula Hadiprana Art Class juga menekankan kreatifitas sebagai salah satu target dalam pelatihan melukis yang dimulai dari tingkat paling dini hingga pada tingkat lanjutan.

 

Pada bulan Juni 2013 Hadiprana Art Class akan menyelenggarakan pameran besarnya dalam rangka ulang tahunnya yang ke 15. Salah satu kriteria penting untuk mencari pemenangnya adalah Kreatifitas anak didalam mengekspresikan karya seni dengan tema :  “Jakarta Kota Seni-ku” 

 

 

 

     Dalam melatih anak agar berpikir ”Out Of The Box”. Hadiprana Art Class mengajarkan cara agar anak berani menciptakan sesuatu yang baru dalam karyanya, unik dan berkonsep.

 

 

Kreatifitas menjadi salah satu jalan untuk mencapai tujuan sesuai dengan misi dan visi pengajaran di Hadiprana Art Class yaitu melatih anak untuk dapat berani mengekspresikan dirinya. Hingga mereka dapat menjadi pemimpin yang dapat mensyukuri keberadaan dirinya, menghargai sesama serta budayanya.

 

 

     Ada enam cara menarik yang ditulis oleh Drs.Radno Harsanto,M.Si. dalam bukunya Melatih anak berpikir Analistis, Kritis, dan Kreatif. Dituliskan bahwa Kreatif berasal dari kata To Create yang merupakan singkatan dari, C = Combine (menggabungkan) R = Reverse (Membalik) E = Eliminate (Menghilangkan) A = Alternatif (Kemungkinan lain) T = twist (Memutar) dan E = Elaborate (Memerinci).

 

6 kata yang terangkai dalam CREATE ini memudahkan untuk berkreatif.

Coba kita bayangkan..........

Tema “Jakarta Kota Seni-ku” menggunakan salah satu rumusan diatas,

 

Combine  :Tugu Monas yang disekelilingnya kita jadikan kebon binatang

Reverse  : Jika jalan tol dipakai untuk umum , sedangkan siapa lewat di jalan non tol dibayar oleh pemerintah.

Eliminate : Menghilangkan  semua jalan raya di Jakarta, karena jalan raya diperlukan untuk gedung  tempat tinggal atau kantor.

Alternatif  : Robot polisi di setiap perempatan jalan.  Atau kita dapat  mengganti rambu jalan dengan gambar yang lebih artistik  dan  menarik.

Twist : Melihat Jakarta tidak dari samping, namun dari atas (seolah kita melukis dari Helikopter ).

Elaborate  :  Tugu Monas kita jadikan gedung bertingkat, terdiri dari banyak tingkat dengan jendela kaca. Atau membuatkan rumah rumah yang menarik (semacam villa ) untuk masing masing binatang di Ragunan ?

 

     Dengan menggunakan cara berimajinasi melalui kata CREATE ini, kita akan mudah membuat objek lukisan dalam tema “Jakarta Kota Seniku” . Dengan cara berpikir seperti ini melukis atau menggambar telah mencapai taraf yang lebih tinggi dari sekedar melihat dan mencontohnya, namun telah melihat dan me-imajinasi-kan sesuatu yang baru. Pada tahap ini melukis sudah naik ke tahap Out off The Box.

(Yulianto Liestiono untuk HAC April 2013)

 

 

(*T*)

 

 
November 2012

 

  

 

On Time [ Tepat Waktu ]

 

 

On Time atau Tepat Waktu. Dua kata yang sangat diinginkan oleh banyak orang untuk terjadi dilingkungannya, khususnya di Indonesia. Namun demikian keinginan untuk mencapainya tak semudah mengucapkannya. Padahal kita semua memahami jika budaya tepat waktu adalah salah satu kebiasaan yang sangat menentukan keberhasilan seseorang atau sebuah organisasi.

Wacana Tepat Waktu ini kami bicarakan dalam pertemuan guru Hadiprana untuk mendapatkan berbagai pendapat dan memperbaiki sikap dalam mengelola waktu masing masing. Sebab sebagai guru di Hadiprana Art Class , kami bukan sekedar mengajar menggambar namun kami diharapkan untuk dapat menjadi panutan bagi siswa-siswa yang belajar di Hadiprana.

Dari pembicaraan tersebut ada berbagai catatan yang dapat saya tuliskan menjadi sebagai berikut:

Beberapa keuntungan jika kita tepat waktu diantaranya adalah,

1.       Terhindar dari hukuman / sangsi organisasi. Contohnya, Banyak Sekolah / Universitas yang menerapkan peraturan, untuk siswa yang terlambat tiga kali berturut turut dengan alas an apapun. Siswa tersebut dapat dikeluarkan.

2.       Mendapat Kesempatan yang lebih baik. Contohnya, Jika seseorang datang tepat waktu pada sebuah audisi maka ia akan memiliki kesempatan untuk dinilai. Sebaliknya jika ia datang terlambat maka ia akan kehilangan kesempatan untuk dinilai . Tidak tepat waktu sepertinya  sederhana namun bias berakibat fatal.

3.       Memperoleh Penghormatan dari lingkungannya. Karena keterlambatan sebenarnya sebuah kejadian yang merugikan orang lain. Seringnya tidak tepat waktu akan menghilangkan kepercayaan orang lain dan kemudian akan menghilangkan rasa hormat. Sebaliknya jika seseorang tepat waktu maka akan menumbuhkan rasa percaya bagi orang lain dan akan membuat orang menghormatinya.

Untuk mencapai sebuah kebiasaan atau budaya tepat waktu memang diperlukan sebuah usaha kuat minimal dalam diri sendiri. Usaha tersebut diantaranya :

  1. Memprioritaskan janji yang sudah di lakukan.
  2. Memikirkan keuntungan perjanjian yang dilakukan tepat waktu.
  3. Menyelesaikan segala tugas secepat dan sesegera mungkin.
  4. Menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk setiap pertemuan yang sudah di janjikan.
  5. Memanfaatkan waktu secara maksimal.
  6. Tidak menunda sebuah pekerjaan.
  7. Menyusun jadwal kegiatan harian, mingguan dan seterusnya.

Kebiasaan tepat waktu akan sangat bermanfaat bagi setiap orang diantaranya :

  1. Penghormatan, karena orang yang tepat waktu sama dengan orang yang menghargai orang lain. Dengan menghargai orang lain maka secara otomatis ia juga akan memperoleh penghargaan yang akan terakumulasi menjadi penghormatan
  2. Dengan kebiasaan tepat waktu maka orang akan sangat efisien menggunakan waktunya. Hal ini akan  memaksimalkan kerjanya karena ia juga akan efisien menggunakan energinya.
  3. Dengan kebiasaan tepat waktu dan hemat energi maka orang tersebut dapat mendayagunakan kemampuannya secara maksimal.

Dapatkah masyarakat kita mencapai budaya tepat waktu ? Jawabanya tentu saja dapat. Karena Tepat waktu adalah sebuah kenyataan yang baik, dan kebaikan selalu akan terjadi atau “memaksa” orang atau masyarakat untuk mencapainya. Mereka yang hidup dengan dasar kebaikan kebaikan termasuk tepat waktu  pasti akan menjadi lebih baik dari pada mereka yang tidak menjalankan kebaikan. Hal ini akan terus terjadi dan menjadi alat seleksi alamiah, untuk menuju kebaikan kehidupan umat manusia.

Kepastiannya seperti janji Tuhan yang seperti Matahari terbit setiap hari di ufuk timur.

Yulianto Liestiono 13 Oktober 2012

 

 
Sept 2012

 

 

KARAKTER ADALAH KUNCI SUKSES

 

       Jihan dan karya karyanya

 

Semua dari kita pasti berkeinginan menjadi manusia yang sukses. Ya SUKSES pasti menjadi tujuan dan keinginan kita semua. Namun kalau kita ditanya tentang apa yang dimaksud dengan sukses? Maka jawabannya sangat beragam, bahkan seringkali satu dengan yang lainnya tidak sama atau bahkan bertolak belakang. Misalnya salah satu dari kita mengatakan bahwa yang disebut sukses adalah jika seseorang berhasil menjadi kaya ( materinya jauh diatas rata rata ). Yang lain mungkin akan mengatakan bahwa yang disebut sukses adalah jika seseorang berhasil menjadi ahli / pandai di salah satu bidang ilmu atau pekerjaan. Namun juga tidak sedikit yang mengatakan bahwa seseorang disebut sukses jika ia telah merasa bahagia. Dari tiga jawaban ini saja antara kaya, pandai dan bahagia adalah sebuah kondisi yang tidak sama. Artinya tidak semua orang kaya itu bahagia, atau tidak semua kebahagiaan membutuhkan kepandaian diatas rata rata. Demikian juga tidak semua orang pandai disalah satu ilmu tertentu akan otomatis menjadi kaya.

Jadi SUKSES itu sebenarnya apa? Dan bagaimana mencapainya ?

Sebelum menjawabnya ada baiknya kita membaca kisah yang sangat inspiratif dari Lena Maria Klingvall.

Lena Maria Klingvall terlahir di Stockholm Swedia, tanpa memiliki kedua lengan dan dengan kaki kiri yang lebih kecil dari ukuran normal. Walaupun dengan kondisi fisik seperti itu, kini ia mampu meraih lebih banyak prestasi dibandingkan dengan orang yang pada umumnya berfisik normal.

Walaupun tak memiliki kedua tangan, Lena Maria belajar renang ketika umurnya masih tiga tahun. Pada usia 18 tahun, ia meraih juara di kejuaraan olahraga nasional Swedia di cabang renang dan menempatkannya sebagai salah satu atlet renang nasional Swedia.

Saat ini, Lena telah berhenti menjadi atlet nasional dan memulai kariernya di bidang seni. Ia mendapatan beasiswa dari pemerintah Swedia untuk melanjutkan pendidikannya di The Royal University College of Music .

Selain berprestasi di bidang tarik suara, Lena Maria juga sangat berbakat dalam melukis. Ia melukis menggunakan mulut dan kakinya.
Pada tahun 1996, Lena Maria meluncurkan sebuah buku yang mengisahkan tentang hidupnya, yang berjudul “Foot-Notes”.
 

Kata-kata dari Lena Maria :

“Saya lebih memilih untuk bersyukur atas apa yang dapat saya lakukan- daripada kecewa atas apa yang tak dapat saya lakukan “

(http://akeminissa.wordpress.com/2010/02/21/kisah-inspiratif-lena-maria-klingvall/)

Yang membuat seseorang berhasil ternyata adalah sikap hidup mereka, bagaimana mereka menyikapi, penderitaan atau kesulitannya. Bagaimana mereka menyikapi kelemahannya dan bagaimana mereka menyikapi keberhasilan, kesuksesan dan kelebihannya.

Banyak sekali contoh orang berhasil yang dilatarbelakangi dengan “penderitaan” bahkan “kekurangan”. Namun ketika mereka melihat “penderitaan” dan “kekurangan” sebagai peluang untuk berbuat sesuatu yang besar, maka mereka malah menjadi berhasil / sukses

Bagaimana mereka dapat memiliki sikap positif hingga mereka mampu memaksimalkan kehidupanya. Ternyata menurut banyak pakar, sikap positif bukanlah sesuatu yang begitu saja terjadi ketika manusia dilahirkan. Sikap positif bukanlah bakat atau sifat bawaan. Namun demikian sikap positif adalah akumulasi dari berbagai karakter positif yang dilakukan terus menerus dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang benar.

Hadiprana Art Class, menyadari hal hal tersebut diatas dan menempatkan pelatihan karakter positif sebagai fondasi bagi pelatihan menggambar atau melukis bagi siswanya.

Beberapa karakter positif yang utama yang dikembangkan dalam Hadiprana Art Class adalah, Kreatif, Antusias, Taat, Tertib dan Pantang menyerah.

Siswa dilatih untuk menjadi anak yang kreatif dalam menemukan solusi, menyelesaikan masalah dalam karyanya. Kreatif untuk menciptakan karya yang unik dan berani mengekspresikan dirinya.

Selain kreatif siswa juga diberi kesempatan serta cara yang dapat membuat mereka menjadi antusias dalam berkarya. Antusias untuk menyampaikan idenya, antusias untuk menyelesaikan pekerjaanya dll.

Taat dan Terib juga menjadi tujuan pelatihan di Hadiprana Art Class, karena dengan membiasakan diri menjadi anak yang taat dan tertib maka kelak mereka akan menjadi manusia yang mudah bersosialisasi dan patuh terhadap hal yang baik..

Pantang menyerah adalah sesuatu yang terus ditanamkan dengan berbagai cara dalam proses berkarya mereka, karena sikap pantang menyerah ini akan membimbing mereka untuk terus dan terus berusaha untuk mencapai cita citanya dikemudian hari.

Karakter karakter positif yang disemai dalam diri anak anak Hadiprana Art Class dalam proses belajar diyakini akan menghasilkan pemimpin pemimpn bangsa yang baik dinegeri Indonesia tercinta ini. Karena sikap positif adalah kunci sukses untuk anak anak kita dimasa yang akan datang.

Yulianto Liestiono Depok 23 Juli 2012

 


© 2013 hadiprana-artcentre.com
Hosting by HostingFlexi.com